Tampilkan postingan dengan label media coverage. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label media coverage. Tampilkan semua postingan

Minggu, 25 November 2012

2012 South East Asia Tour

The Frankenstone’s Singapore – Malaysia tour 2012 (2 – 7 Maret 2012)




Dengan membawa 4 hardcase (gitar, bass, toolbox, dan snare), satu koper, satu travel bag dengan berat keseluruhan hampir 50 kg, kami bertiga dengan salah satunya adalah perempuan, merasa lebih tough dari band hardcore manapun. Perjalanan dimulai dari bandara Adisucipto, Yogyakarta. Pesawat landing pukul 07.30 pagi. Ini pertama kalinya kami bertiga naik pesawat, Gisa sangat excited, tapi Putro dan Jeje ketakutan setengah mati.
Tiba di Changi Airport pukul 11.30 waktu Singapore (perbedaan waktu satu jam lebih cepat daripada Yogyakarta). Kami sangat kebingungan karena bandara sangat besar dan ketakutan akan menghadapi imigrasi, takutnya kami ketahuan akan mengadakan show, menjual merch, dll sehingga disuruh bayar pajak dan berurusan ini itu. Untungnya urusan imigrasi berjalan dengan cepat, tidak ditanyain macem-macem, tak seseram yang kami bayangkan sebelumnya. Tetapi masalah datang lagi ketika Cher (orang yang akan menjamput dan menjadi pemandu kami di sana) tidak bisa menjemput di bandara sehingga kami harus naik kereta subway untuk bertemu dengannya di stasiun Lavender, sempat kesasar karena ada orang Indonesia sok tau yang sok mau memandu kami. Akhirnya kami sampai di Stasiun Lavender dan menunggu Cher disana,yang datang 2 jam kemudian, terburu-buru dari tempat kerjanya. Ketika mau keluar kami tidak bisa melewati portal. Ternyata kami kena denda masing-masing 2 dolar karena kami terlalu lama menunggu di stasiun. We paid fine in Singapore! Setelah semuanya beres, kami betiga saling berkata, SINGAPORE’S OUT THERE DUDE!!!
Perjalanan selanjutnya kami lakukan menggunakan bus. Setelah itu kami jalan kaki jauh sekali menuju hostel. Dalam perjalanan ini, koper pinjaman kami akhirnya jebol tangkainya gara-gara diseret-seret Putro mengejar pemandu kami yang jalan cepat ala Singapore. Akhirnya sampai juga di hostel ARK259 Lodge di Jalan Besar. Kami naroh barang-barang, makan siang (ditraktir Cher) chicken rice dan pork noodle soup yang enak banget di kedai masakan China, dan langsung pergi ke patung singa Merlion. Walaupun gerimis, kami tidak peduli karena kami cuma sehari di Singapore, jadi kesempatan jalan-jalan kami ya cuma saat itu…
Venue gigs hari itu tidak jauh dari tempat kami menginap, hanya sekitar 2 blok saja. Chapter Six adalah gigs pertama kami dan kami terlihat dan merasa sangat udik di kalangan anak band Singapore. Di negara maju seperti Singapore kita akan mendapatkan pemandangan anak street punk menenteng gitar Gibson SG dan membawa Ampli Marshal, membuat kami merasa rubbish, hahhaha…. Terlebih lagi penampilan kami sangat biasa-biasa saja, ga ada di antara kami yang seksi atau bahkan sekedar ngecat rambut. Sementara anak-anak punk Singapore itu ngedressnya maksimal booow… Sebelum gigs kami makan malam dulu. Sekarang mau coba kuliner India, jadi kami pesan nasi briyani karena sangat recommended di buku “500rb keliling Singapore” yang kami beli. Ternyata NGGAK ENAK!
Show kami berlangsung keren, semua penonton berdiri, kadang pogo kadang mengepalkan tangan ke udara, , yeah another successful punk rock show, and we want more! CD dan tshirt kami laku, dan kami senang sekali karena bisa buat menambah uang saku kami. Paginya kami check out dari hostel setelah makan pagi, Cher datang jam 12 siang untuk mengantar kami sampai ke terminal bus. Dari situ kami naik bus Singapore – Johor Bahru Express menuju ke Johor Baru (JB).  Perjalanan ini cukup berat karena tidak ada orang lokal yang menemani kami. Kami sempat kebingungan di Singapore custom, hampir salah naik bus, ditegur tentara Malaysia yang berkumis seram, sebelum akhirnya sampai juga ke terminal Larkin, Johor Bahru.
Di JB kami dijemput oleh Aji dan Coki. Kali ini perjalanan agak ringan, soalnya naik mobil hehehe….  Langsung menuju venue, Embrace Hall, sebuah lantai dua ruko yang disulap jadi studio jamming, lapak merch, dan lodging untuk band yang tour. Venue ini keren banget, dan kami bermain bersama orang-orang yang asik banget! Kami bahkan malah ketemu sama Plague of Happiness, sebuah band ska yang dulu pernah satu panggung dengan kami di Jogja. Merch kami di sini laku keras! Semua orang beli CD, kaos, dan pin kami. Bahkan mereka tanya berapa harga stiker kami. Kami bilang, stiker itu kami bagi gratis buat mereka yang beli CD, kaos, atau pin. Koper kami pun berkurang beratnya secara signifikan, sementara dompet kami menebal!

Saat show, kami ternyata bermain di depan crowd yang paling excited! Mereka memenuhi mosh pit sepanjang show, stage dive dan bernyanyi-nyanyi, baik laki-laki maupun perempuan. Dan ketika kami sudah kehabisan lagu di song-list, mereka masih minta lagi! Di situ, kami pun bertemu dengan Adzuan Idris, promotor kami di Malaysia. Dia membawa sekardus kaset Don’t be Sad Don’t be Gloom The Frankenstone is Ugly produksinya. Akhirnya kami punya kaset!
Di dalam venue itu ada “rumah” buat kami dan Fahmi, manajer dan promotor kami di JB. Rumah itu berupa ruangan yang disekat supaya terpisah dari venue, dindingnya dipenuhi berbagai poster punk rock show, lantainya berkarpet tebal, sofa, TV flat dan AC, plus berbagai koleksi zine, CD, tape, dan vinyl yang mengagumkan. Setelah makan malam, Fahmi memberi kami fee untuk show hari itu. Bayaran yang gak kami sangka-sangka. Ternyata kalau di Malaysia semua band, gak peduli band kecil atau gede, gak peduli gig kecil atau gede, semuanya diusahakan dibayar. Kalau di Indonesia mana bisa. NOFX aja gak kita bayar, apalagi cuma The Frankenstone!
Besoknya kami meninggalkan Embrace Hall menuju Larkin terminal lagi. Dari sini kami naik bus melewati perjalanan jauh menuju kota Tampin, di Negeri Sembilan. Di sini kami bermain di dalam pasarAnak-anak Tampin telah menyewa suatu los di lantai tiga pasar Tampin dan merubahnya menjadi studio jamming bernama Seventh Heaven. Sebelum manggung kami sempat cari makan di pasar dan belanja awul-awul “bundle”. Lumayan banget, Gisa dapet dress dan Jeje dapet dua potong celana. Awul-awulnya di sana bersih dan ga terlalu apek kayak di Indonesia. Plus banyak barang-barang branded di sana. Shownya lumayan keren, kami ketemu band keren, Skunkfix. Sayangnya ketika kami on stage, kami mengalami kendala teknis dengan ampli gitar sehingga lagu “We’re Friends” sempat berhenti dengan gak keren banget. Tapi afterall, another good show! Dari Tampin kami numpang mobil Skunkfix menuju rumah Adzuan di Kuala Lumpur (KL), dimana besok sorenya, kami naik mobil untuk perjalanan PUANJAAAAANG sekali ke Ipoh, Perak, sebuah kota kecil di sekitar ujung utara Malaysia.
Kami bertiga, plus Adzuan dan Amar yang mengantar kami, rasanya capeeek sekali karena perjalanan. Mau gimana lagi, kami berangkat dari KL jam 5 sore dan sampai di Ipoh, Perak, jam 11 malam. Kami sempet deg-degan, takutnya acaranya habis sebelum kami sampai. Tapi untungnya acaranya sukses! Gigs oke, merch laris, plus dapet temen-temen baru. Datang, langsung main, lalu jam 12 malam kami langsung pulang ke KL (“Hah, pusing balek?” tanya teman baru kami yang kenalan di Ipoh). Pukul tiga pagi, ketika muka kami udah pada bruwet semua, kami sempetin berhenti di sebuah food court untuk makan, dan sialnya Putro dan Jeje dapat makanan India lagi, hiyek… Gisa makan nasi goreng kecap yang lumayan aman rasanya. Kuncinya adalah jangan malu bertanya makanan apa itu, plus harganya berapa! Tapi yang penting shownya sukses, dan kami dapet beberapa teman lagi di Ipoh! Kami selamat sampai di rumah di KL pukul enam pagi.
Sorenya, ditemani Adzuan, kami naik kereta listrik dan mampir di record store yang bernama Ricecooker milik Matt Noor di daerah Masjid Jamek. Toko itu yang keren sekali, barang dagangannya termasuk kaset, CD, piringan hitam, kaos, zine dan buku bekas. Sementara kami melihat-lihat, ternyata Adzuan sudah mengatur agar teman kami Alak (Pusher, Carburetor Dung) menjemput naik mobil menuju Rumah Api.
Rumah Api ternyata keren sekali. Venue itu seperti one stop point untuk scene punk di sana. Letaknya tersembunyi di area kota tua Ampang, dengan bangunan ala ruko kolonial yang di-punk-kan dengan interior cat hitam, instalasi poster-poster gig, spanduk protes untuk pembebasan punk Aceh, artikel-artikel radikal, plus frase-frase pemberontakan yang disapukan di dinding. Tempat ini lengkap dengan studio jamming, area lapak, dan kedai vegan (3 vegan curry puffs for RM1!) Sayangnya venue ini sepertinya akan segera dirobohkan karena daerah itu mau dipugar dan dijadikan highway.
Di sini kami bertemu dengan SkunkFix lagi, dan kami sempet ditraktir bir sama Alak. Walaupun Malaysia adalah negara Islam, kamu bisa menjumpai kedai yang khusus menjual bir dan minuman keras lainnya di dekat Rumah Api. Keren!!! Kami bermain total sekali di Rumah api. Crowd juga keren, semua pogo, moshpit dipenuhi cewek-cewek moshing. Semuanya sold out! Tanpa kendali, gitar jatuh, lecet-lecet, semburan air mineral, semuanya senang senang malam itu, terutama kami! Tapi kami hanya membawakan sekitar 15 lagu karena sudah melebihi jam malam, dan polisi sedang menuju kesitu. Di lagu terakhir kami sempet featuring sama anak Malaysia. Dia main harmonika, dan kami mainin lagunya Ramones, Blitszkrieg Bob, itulah klimaksnya! Setelah show kami langsung berkemas, berpamitan dengan teman-teman, dan kami pulang dengan sangat bahagia.
Show itu selesai jam 1 pagi. Kami sampai rumah dan tidur jam 3 pagi, sementara kami harus bangun jam 5 pagi untuk pergi ke bandara yang jaraknya jauh. Kami naik kereta pertama ke KL Central, pukul 6 pagi. Setiba di KL Central kami langsung beli tiket bus ke bandara KL. Setelah wira-wiri di KLIA dan menunggu satu dua jam di waiting room bersama para TKI, akhirnya kami terbang juga pulang ke Jogja.
Ketika sudah mejalani semua ini kami jadi berpikir, kami ini band yang sering mengalami penolakan, kami ga punya hits, kami belum pernah masuk TV, belum pernah main di pensi anak SMA, rekaman kami cuma murahan dan bukan dirilis major label, para personel kami gak ada yang cakep atau tajir, kami cuma band yanng paling beruntung, kami punya musik dan teman-teman yang percaya sama kami, itu sudah cukup membuat kami bahagia. Even though we lost, we win!
Terima kasih,
The Frankenstone
Putro (guitars), Gisa (bas), dan Jeje (drums).
[words by Gisa | pic : band's doc, Hero Zaman] 
terbit di EAR Magazine http://earmagazine.com/even-though-we-lost-we-win/

Selasa, 13 Desember 2011

Indonesian Girl Have Power (Kumpulan Cewek Indonesia yang punya band)



Wah gela si Gisa masuk dalam forum ini sebagai salah satu cewek-cewek di dunia rock di Indonesia, bersama dengan teman-teman cewek-cewek lainnya

Indonesian Girl Have Power (Kumpulan Cewek Indonesia yang punya band)

The Frankenstone | Punk Rock Sehat

ah, kami hanya manusia biasa yang terkagum-kagum pada fame and fortune. Secara berkala kami meng-google diri kami sendiri, dan terharu ketika menemukan posting baru di internet mengenai kami. Di bawah ini adalah link bahasan mengenai kami di kaskus.

The Frankenstone Punk Rock Sehat

terimakasih buat yang sudah menggosipkan kami yah..

Jogjakarya, Swaragama fm, 7 Agustus 2011

Thanks for Asad bin Bisyir for the interview in Swaragama! Our voice was aired through the town mate!

The Frankenstone for HUFF Magz

Tiga wajah kami muncul di Huff Magazine, Huff photography edition: Tell Your Story. Selain difoto, kami juga diinterview mengenai apa, bagaimana, dan dengan siapa kami ingin di foto!
Edisi ini bisa diungguh di www.HuffMagazine.com atau pesan dan beli edisi cetaknya seharga Rp 55.000,- .

Press Conference and What Follows After




Edisi KR yang paling bikin heboh

Selasa 15 Maret di Warung Mbak Sasha, Deresan, kami mengadakan konferensi pers pertama kami. Dibantu dengan sangat baiiiik sekali oleh Racco Bucek dan Woto Wibowo dari Yes No Wave, kami diwawancara oleh berbagai tabloid dan koran di Jogja. Sedikit berasa gimanaaa gitu ketika kami difoto oleh beberapa fotografer sekaligus, dan ketika ucapan-ucapan kami dicatat, direkam, ditanggapi, dan disusul dengan pertanyaan-pertanyaan lain! Wow! Menurut kami memang Pers adalah fenomena itu sendiri!

Tanggal 16 Maret, keesokan harinya, status FB kami
"hari ini The Frankenstone dimuat di harian Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Merapi, dan Harian Jogja......"
Dan keluarga, beberapa tetangga, teman-teman kampus, kenalan lama, tiba-tiba pada heboh ketika membuka koran pagi itu dan melihat wajah-wajah kami yang berpose ala trio kwek-kwek disertai artikel pendek/panjang tentang album kedua itu.
Bahkan masnya yang jualan Jus Qta, masnya yang di tempat fotokopi, dan beberapa lagi pun mengenali kami di berbagai tempat. Hal itu berlangsung selama beberapa hari dan tetap menjadi hal yang spesial bagi kami, ketika Putro, Gisa, dan Jeje dikenali orang yang tidak kami kenal, karena musik kami.

Di bawah ini adalah beberapa media online yang merilis hasil interview waktu konferensi pers:
Cekidot

Kedaulatan Rakyat

Tribun Jogja


Kebanyakan memang berisi kalimat itu-itu saja, dan takkasih tau ya, sebenernya banyak kata-kata di berbagai artikel itu yang hanya copy-paste dari press release kami yang kami bagikan satu persatu ke semua jurnalis yang datang!Hahahhaa... gak masalah, yang penting bisa bilang, "MAMA AKU MASUK KORAN!!!"

Anyway, press conference was AWWESOME!

The Frankenstone for EAR

EAR, sebuah transformasi yang jauh lebih baik dari pribadinya yang dulu, DAB, memuat The Frankenstone sebagai cover story setelah kami merilis A Kid's Refuge form the Adults. Foto kover dilakukan di sebuah minimarket, sebuah dream-come-true bagi Putro yang sudah memimpikan band shot di swalayan sejak bertahun-tahun lalu. Sayangnya edisi ini tidak dicetak! huhuhuhuu... dan akan sangat mungkin menjadi edisi terakhir EAR yang gak bisa produksi karena gak ada iklan. So please, masukin iklan dong, supaya media jurnalistik musik paling bermutu di Jogja ini bisa bangkit lagi.


EAR vol. 29 edisi The Frankenstone berbentuk PDF bisa diunduh dalam bentuk
PDF dan ebook

Kunjungi pula  laman laman FB EAR

Senin, 12 Desember 2011

The Frankenstone interview with Pussy Wagon

Beberapa tahun yang lalu kami di interview oleh Pussy Wagon, sebuah zine dari Bandung. Pertanyaannya buanyaak banget, dan aneh-aneh... jadi kami jawab dengan lebih aneh lagi, hohoho... tapi kami seneng banget karena punya kesempatan untuk dikenal oleh lebih banyak orang.Thx buat Milla dari Pussy Wagon.


Q: Halo The Frankenstone! Apa kabar? Gimana rasanya diinterview di Pussy Wagon? xD

Wow baik sekai, kami seneng sekali bisa di interview di Pussy Wagon. Eh, btw kok nama zinenya kaya situs porno ya?hahahaahhaha


Q: Bisa diceritain dulu, siapa kalian sebenernya? Jujur aja saya juga baru denger nama kalian akhir taun kemaren waktu maen ke Jogja, itu juga sekilas doang xD. Ceritain dong buat temen2 yg belom tau :D

Yah… kami ini cuma band kecil dari kota yang juga kecil, bisa dibilang nowhere. Kami cuma pingin main musik sebisanya, kalo ga bisa ya nyontek… karena itu kami cuma sekumpulan plagiat yang menyerupai band!

Kami ini : Putro= gitar/vocal, Gisa=bass/vocal, dan Jeje = drum/perkusi.

Kalo kamu payah, jorok, gagal di semua bidang, dicemooh banyak orang, amatiran, dipandang sebelah mata, maniak sex, terabaikan, pandir, pemalu, dan suka musik rock, kamu akan suka The Frankenstone. We play music for other dummies outhere.


Q: Kerjaan sehari-hari selain ngeband ngapain aja?

Putro sehari-hari adalah seorang guru SMP dan SMA, dan sekarang lagi sibuk karena mau UAN. Gisa masih kuliah Sastra Inggris di Sanata Dharma, IP semester kemaren dia dapat 4.00 lho! Dan lagi belajar untuk jadi penerjemah. Sedangkan Jeje juga masih kuliah Pendidikan Agama Katolik di Sanata Dharma juga.


Q: Eh eh, penasaran nih, ada filosofi tertentu di balik nama The Frankenstone ini? Gabungan dari Frankenstein sama Rolling Stones…? Biar jelek kayak Frankenstein tapi yg penting tetep rock ‘n roll gituh…? Hahahaha, sori2 sotoy nih…xD

Kami paling ga bisa kalo ditanya kenapa namanya Frankenstone, alirannya apa, bingung jawabnya…hahahaha… Ga da filosofinya, kita sendiri juga ga tau kenpa dulu kita namai Frankenstone, dulu kita cuma pengen nyari nama band yang kata-katanya ga ada waktu dicari di google, belum dipakai orang, bagus atau jelek yang penting belum ada yang pakai, hahahaha…


Q: Saya kan dapetin album kalian dari website Yes No Wave tuh, lagi iseng browsing ngeliat ada band namanya The Frankenstone dengan cover album bergambar cowok gendut-berbulu-jijay, didominasi warna pink mencrang yg mencolok mata, trus di-download deh albumnya karena penasaran. Dan pas didengerin…bluaarrr! Band appaaaa inniiii? Punk ketemu rock ketemu grunge padahal saya pingin aja rasanya nyebut itu rock ‘n roll. Tapi lagu2nya menyenangkan juga, catchy dan singalongable! *cieehh, hehehe. Padahal tadinya dikirain band aneh xP. Kenapa mutusin bikin band kayak gini? Emang influence nya siapa aja? Dari dulu udah maenin musik kayak gini ato gimana…? Kalian sendiri lebih seneng nyebut diri kalian sebagai band yg maenin apa? Silahkan ceritain proses bermusik kalian! :)

Kalimat pertanyaanya yang mana nih?hahahaha..

Sepertinya sepanjang karier kami, kami harus terus menegaskan kalo kita bukan band grunge, The Frankenstone adalah band rock saja! Kayak Motorhead yang menghabiskan sepanjang kariernya untuk mengatakan kalau mereka band rock n roll, bukan band metal!!!

Kami ga pernah ngrencanain bikin band kaya gini. Semuanya terjadi begitu saja. Kita bertiga tumbuh di lingkungan scene punkrock di jogja, tapi kami pingin bikin band yang beda dengan teman-teman kami.

Karena pada dasarnya kami itu payah, kami gak bisa berdandan aneh dan menyatakan diri pemberontak seperti band-band teman-teman kami itu.

Kita pingin bikin band yang ngeriff kaya band hardrock seperti AC/DCC, Black Sabbath tapi ugal2an dan ngebut kaya Motorhead dan band2 punk rock, tapi juga melodius. Itu konsep awalnya, tapi kami ga mau saklek sama konsep. Semuanya mengalir dan berubah dalam proses. Kami ga bisa menebak sebuah lagu akan jadi seperti apa sebelum mendengarkan hasil rekamannya.

Influences nya Putro itu band-band seperti Motorhead, Misfits, Ramones, Lars Frediksen and The Bastard, Black Sabbath, The Minutemen, AC/DC, dan Social Distortion.

Gisa sukanya The Muffs, The Queers, Green Day, Descendent, Toydolls, The Vandals, The White Stripes ,Flogging Molly, Black Lips… tapi tetep aja dia bukan belajar musik dari mereka. Bisa dibilang satu-satunya influensnya Gisa tu ya si Putro!

Sedangkan Jeje influensnya Bouncing Souls, Dropkick Murphys, Rancid, D.R.I, dan Transplants.

Banyak lagi lah

Proses bermusik kami dulu dimulai dari putro yang bosan dengan musik yang itu-itu aja, lalu ingin memulai bandnya sendiri. Dia dan gisa mulai bikin-bikin lagu bermodal gitar akustik. Trus gisa yang sebelumnya belum pernah pegang bass sama sekali memutuskan untuk main bass.

Kemudian, ya jadilah The Frankenstone. Kami kemudian sering mengalami penolakan dalam cari dramer, kami mengalami hal-hal paling buruk dalam manggung… tapi prinsip kami pokoknya main, good or bad, panggung gede atau kecil, yang nonton 1 atau 100, walaupun dulu kami ga punya dramer kita tetep main dengan modal gitar akustik..

Kemudian kami menemukan Jeje, satu-satunya dari dramer-dramer brengsek itu yang benar-benar jadi bagian dari The Frankenstone.

Sekarang puzzle kami sudah lengkap.


Q: Pas nanya Menus, katanya album ini dibikin udah lama, 2 taun yg lalu. Wahhh, telat banget dong gw T_T emang dirilisnya kapan sih, kok nggak ada gembar gembornya ya? Ceritain dong tentang pembuatan album kalian, ribet nggak?

Bukan 2 tahun yang lalu tapi itu prosesnya sejak 2 tahun yang lalu, sejak band ini berdiri. Memang ga suka gembar gembor, kami ga bikin loncing, kami ga nitipin album kami di distro atau apapun karena kami malas berurusan ma mereka. Kami menjual cuma dari tangan ke tangan karena kita juga pingin kenal orang-orang yang beli album kita… kita semua pemalas&pemalu, mau gimana lagi… Tapi mungkin suatu saat kita bakal koar-koar, gembar-gembor, loncing, kalo ada modalnya.

Album itu cuma direkam secara semi live, musiknya main bareng dulu lalu vocal direkam berikutnya. Untuk rekaman 19 lagu itu kami cuma menghabiskan total 750 ribu lho! Hahaaa… Sebenarnya lagu2nya udah lama selesai, tapi kita ga punya dramer jadi rekamannya tertunda-tunda,..

Kami memang ingin rekaman dan album kami simpel. Bukannya ga mau maksimal, tapi memang begitulah kami. Lagu-lagu ini rata-rata kami selesaikan pada take pertama. Bersih ato ga, we don’t give a damn! Hahaha…

Pokoknya, kami membuat album seperti yang ingin kami dengarkan.

Bagi orang-orang, mungkin rekaman kita cuma sekualitas demo, tapi biarlah, kita belum pernah bikin yang namanya demo, mungkin suatu saat kalo kami dah punya duit kami akan rekaman yang lebih bagus.

Banyak band merilis 12-15 lagu di dalam sabuah album, pasti ada alasannya. Untuk kami, kami merilis 19 lagu, karena lagu-lagu itu terkait satu sama lain. Bukan hanya sebagai sebuah album musik, tapi juga sebagai album kenangan akan musik seperti apa yang kami mainkan dalam jangka waktu itu, bagaimana cara kami memainkannya saat itu, apa saja influens kami saat itu, dan apa saja peristiwa yang kami alami di dalam masa itu.

Kami juga membuat sendiri artworknya (well, maksudnya menunggui sendiri orang yang bikinin kita artwork dan membawelinya, gambarnya begini, gambarnya begitu… hehehe… tapi gisa juga menggambar sedikit –sambil dibaweli putro.)putro yang membuat icon fatboy itu.


Q: Kok mau ngerilis sama Yes No Wave? Emang kalian nggak pengen ngerilis album secara fisik? Kalo yg pengen dapetin album fisik kalian buat koleksi gimana dong, kan saya mau juga…Opini kalian tentang net-label dan download musik gratis gimana? Keuntungannya buat band2nya sendiri apaan? Kalo saya sih suka yah, secara bisa dapet lagu GRATIS gitu…xD

Unduh music gratis memang mematikan industri musik, tapi sangat membantu untuk band-band baru. Tau kan band-band jaman dulu latihan sambil merekam musik mereka di kaset tape, digandakan, dan membagikannya sebagai demo. Sekarang kita tinggal convert ke MP3 dan lempar ke myspace atau mediafire, dia akan tersebar sendiri.

Yesnowave memberikan kebebasan artistic, kita ga harus kompromi, kita bisa ngeluarin album sesuka kita.

Kami mencetak 100 kopi CD dan sudah hampir habis dibeli, dari tangan ke tangan jualnya. Sejauh ini baru yang di jogja aja yang beli. Rencananya kami akan cetak lagi dan meluaskan target korban pembeli berikutnya, hahaha..

Kalo mau beli bisa hub putro 081578199900 atau gisa 085643661297

Lagipula, kami percaya orang-orang masih membeli CD dan kaset rekaman kok.

Merilis rekaman bukannya tanpa resiko, tapi kami percaya tetep ada aja yang akan mau beli. Akan tetap ada orang yang menantikan album baru keluar.


Q: Album ini dirilis sama For The Dummies Records juga ya? Itu records apaan dan punya siapa sih? Ceritain dong…trus denger2 dirilis label US juga ya?

For the Dummies records adalah record fiktif, Hahahah…The Dummies sebenarnya adalah sebutan kami untuk orang-orang yang mengikuti band kami. Orang-orang yang ga mau sok pinter dan sok keren, berpenampilan pandir dan imbisil dan hanya mengangkat bahu ketika orangtua mereka berteriak, “Mau ngepunk sampe kapan??? Get a life, son!”

Kalo band ini udah gede, mungkin For the Dummies records akan jadi records beneran, yang bisa bantuin band-band temen kami juga, band-band pandir lainnya, maunya sih seperti Hellcat records.

Hmm… dan masalah label US itu… Emang apa sih hebatnya label US? kami gak mau ngomong banyak tentang mereka sih. Mereka memang sedikit membantu kami. Tapi kok kayaknya naïf banget kalo kita denger frasa “label US!” lalu langsung tercengang-cengang. Beberapa orang Amerika memang jadi tahu kami, tapi Yesnowave dan FTD records lebih berjasa buat kami, jadi kami lebih seneng ngomongin tentang mereka aja.



Q: Vokalisnya terinspirasi Damon Albarn ya? *sotoy. Cara nyanyinya mirip sih…

Damon what? Albarn who? We hate Blur honestly, hehehehe…. sebenarnya putro pengen nyanyi kaya Lars Frederiksen dan gisa pengen nyanyi kaya Kim Shattuck tapi jadinya ya cuma kaya gitu, hahahahaha…


Q: Kenapa pink????!

Sebenernya itu bukan pink, tapi merah. Yang di Yesnowave itu versi CMYK nya yang di Corel. Kata temen kami yang nolongin bikin desain kover, kalo corelnya pink, ntar kecetaknya jadi merah. Trus kita asal aja kasih data corel itu ke Wowok Yesnowave, jadi yang kemuat di yesnowave yang pink deh, hahahaha… Kalo cover CD fisik ya merah warnanya.

Mungkin pertanyaannya harusnya jadi “Kenapa merah?????!” Tapi kita ga akan jawab karena bingung mikirnya! Hahaha..


Q: Itu logo The Frankenstone kan orang2an sawah bawa salib, maksudnya apaan? Kalo diliat sekilas mah kayak poster film Blair Witch Project…

Wah kita belum pernah nonton film itu! Hahaha…

Sebenernya itu logo hasil draft coret-coretan gak jelas, kemudian kami scan karena takut kami gak bisa gambar yang kayak gitu lagi. Yah, sama kejadiannya seperti band ini, gak jelas dan gak sengaja.

Dan memang ga ada maksudnya. Kami ga suka menyederhanakan segala macam hal dengan memberinya arti yang bisa dianalisis.


Q: Judul album kalian Don’t Be Sad, Don’t Be Gloom, The Frankenstone is Ugly, itu kayak semacam ajakan untuk bersenang2 dan bangga dengan ‘kejelekan’ diri sendiri. Entah itu jelek secara fisik ataupun kelakuan/sifat yg selama ini dianggep loser. Dari artwork album [gambar anak kecil cengeng, cowok gendut dan jelek, orang yg lagi muntah, cewek lagi boker, hal2 kayak gitu deh] sampe lirik-lirik kalian yg nyeritain tentang kesepian, stuck, naksir cowok orang, takut cepet tua, penyakitan, jadi cowok baik2 yg payah, tapi semuanya tetep ber-atmosfer ceria. Buat gw ini asik, kalian kayak menyajikan antitesis dari standar bikinan orang kebanyakan tentang apa itu ‘keren’, ‘bagus’ dan ‘bener’, bahwa yg buruk itu nggak se-buruk itu. It’s okay to be a loser, we love being ugly, it’s a part of ourselves! Eh, bener nggak? HUAAHHH, kepanjangan ah. Yaudah, nggak mau tau, pokoknya ceritain apa yg sebenernya mo kalian sampein di album ini…

Kami ga berusaha untuk menonjolkan imej jelek kami…. kami cuma mau jujur aja dengan keadaan kami. coba aja liat kami, vokalis+gitarisnya gendut penyakitan rambutnya dah mulai rontok; basisnya cewek berbadan lurus kaya guling, trus giginya kaya Fredie Merkuri; drummer kita kurus banget dan pada usia 20 tahun tubuhnya belum ditumbuhi bulu-bulu yang seharusnya semua laki-laki punya… bentuk kami nggak kayak anak band, dan kami culun, dan sukanya di rumah.

Kalau kalian adalah anak band, pasti kalian merasa kalau anak-anak The Frankenstone itu “enggak banget”.

Kami bukannya mau jadi “sok bodoh” dan teriak-teriak, “bodoh itu keren!!!”, Tapi apa pendapatmu mengenai album ini adalah pendapatmu mengenai kami secara pribadi. Kalo album ini terlihat “bodoh” dan “ga pedulian”, mungkin memang seperti itulah pendapat kalian kalo kalian kenal kami.


Q: Lirik2 yg kalian tulis punya relevansi yg kuat nggak sama kehidupan kalian sehari-hari? Maksudnya secara personal kalian emang kayak yg tercermin [saahh, tercermin…] dalam lirik kalian ato gimana?

Ya, semuanya adalah interpretasi dari kehidupan kami. Kalian sebenarnya ga perlu wawancara kami, baca saja lirik kami, semuanya ada di sana.

Putro bener-bener sakit, dia melakukan operasi septum deviasi untuk memotong tulang hidungnya yang bikin dia pilek dan flu terus menerus selama bertahun-tahun. Setelah itu dia bikin lagu-lagu yang berhubungan dengan kesehatannya, kayak I got a problem with my health, fever, dan lain-lain. Lirik-lirik kami juga banyak yang menyinggung ketakutannya kami jadi tua dan gak bisa main-main lagi, tentang pacaran kacangan, tentang jadi anak culun, dan lain-lain.

Kami masih menulis lirik dari sudut pandang orang pertama supaya personal. Semuanya ambigu dan “open ending”, jadi kalian bisa menginterpretasikannya sendiri, hahaha… Dan juga walo kisah nyata, semua lirik kami ditulis asal-asalan dan dipas-paskan dengan nada biar enak nyanyinya.


Q: Ordinary Love Song adalah lagu yg paling sering diputer di playlist saya beberapa minggu terakhir. Saya suka banget lagu itu! Manisnyaaa...Liriknya juga lucu banget. Ada cerita di balik lagu itu, pengalaman pribadi atau…?

Hahahaha… lagu ini emang kita bikin nakal. Konsepnya adalah tentang cewek asshole bertampang jelek tapi berbirahi tinggi tukang naksir cowok orang.


Q: Oke, saatnya pertanyaan lebay. Lagu Uncomercialized Prostitute itu tentang seseorang yg ‘mengabdikan’ dirinya untuk orang yg dia cintai banget ya? Sampe mau ngelakuin apa aja, rela jadi ‘pelacur yg nggak dibayar’? [eh namanya pelacur pasti dibayar nggak sih? Hehehe]. Ini punya kecenderungan ke arah fetish sex ato sadomasochist gitu nggak? Secara beberapa orang emang seneng di’miliki’, dikuasai, didominasi, di-humiliate, dan kalo dalem lagu ini sih dia kayaknya ‘rela’ aja diperlakukan seenaknya gitu. Ato emang udah cinta mati aja nih orang?

Uh no! Seks adalah seks, dan itu cuma bagian kecil, salah satu dari hal-hal besar yang dicakup lirik lagu ini. Kalo kamu sedang jatuh cinta secara kacangan, kayak anak umur 10 tahun dengan anjing kesayangannya, secara buta dan tuli, ya kayak gitu rasanya.


Q: Di ‘thanks to’ sleeve album kalian, kalian bilang makasih buat “those drummers who have rejected us”. Hahahaha. Kayaknya agak bermasalah nemuin drumer yg cocok ya...[sotoy]. Emang udah ganti drumer berapa kali? Kenapa drumer2 itu nggak ada yg betah sama kalian?

Wow masalah drummer, hahahaha….kami dulu pernah ga punya dramer, sampai2 tebar pasan ke myspace semua band, walaupun akhirnya ditolak semuanya, hahahaha…. Akhirnya kami mencari drummer seadanya, dan ternyata dapatnya drummer yang Travis Baker banget, ato drummer jazz, ato drummer yang aslinya fotografer, ato drummer yang lebih ngerock daripada kami!

Padahal dulu kami pingin punya dramer yang nggak kekinian, sikapnya biasa-biasa saja, tabiatnya gampang ditebak, nggak gumunan, tau banyak tentang musik, nggak gondrong, nggak berponi, nggak kerempeng, nggak merokok di atas panggung, nggak gumunan liat minuman, nggak melodik, tidak mabuk, tidak kriminal, dan cukup bahagia menjadi drummer kami…..lalu dramer2 itu bilang “hey, emangnya kalian ini siapa?” Hahahahaha…jadi lebih tepatnya bukan kami yang bermasalah dengan dramer tapi mereka yang bermasalah dengan kami…


Q: Apa arti band ini buat kalian?

The Frankenstone merupakan sebuah tempat bermain.

Contohnya begini, waktu kita masih anak-anak, kita semua pasti punya markas, tempat rahasia yang benar2 kita jaga. Hanya orang tertentu yang boleh masuk, beruliskan “orang dewasa dilarang masuk!” Tempatnya bisa di kamar, di luar rumah, dalam lemari, loteng … Di sana kita punya dunia sendiri, kita punya rahasia, kita menumpahkan hidup kita disana, membuat karya disana, menghiasnya dengan bunga2, bersenang senang dengen teman2… lalu setelah dewasa kita meninggalakannya begitu saja, hahahahaha…

Kamu pasti punya tempat seperti itu kan?

Kami pingin Frankenstone seperti itu, tidak ada yang boleh mengusik musik kami, persahabatan kami, kalau suka silahkan dengarkan kalo ga kami ga akan memohon2 untuk kalian menyukainya… yang penting kami seneng. Music is just supposed to be fun.

Kami saling menyayangi satu sama lain, sudah seperti keluarga sendiri. Tidak ada rockstar di antara kami. Kami main bareng, pergi bareng, bahas masalah yang ga ada hubungannya sama musik… Dan kalo band ini tidak lagi menyenangkan lebih baik bubar. Mungkin kedengerannya klise, tapi memang seperti itulah. Band ini milik bertiga. Orang dewasa dilarang masuk!!!!


Q: Seumur-umur manggung, gigs yg paling kacau dan heboh waktu The Frankenstone maen tuh di mana & kapan?

Hahahhaa… waktu itu kami manggung di sebuah tempat futsal, di acara nonton bareng MU ato apa… dan Jeje baru pertama kali manggung dengan kami. Terus kami manggung ugal-ugalan. Putro kayang-kayang dengan gitarnya, lalu naik-naik bass drum. Tiba-tiba, waktu dia loncat dari atas bass drum, mick buat bass drum masuk dan merobek membran depannya. Stand mick juga pada jatuh berantakan. Kemudian orang dari pihak sound langsung naik panggung, dan ketika lagun belum selesai, Putro langsung dipiting dan diajak berantem di atas panggung! Tapi kami berhasil memberesi instrumen kami, dan cepat-cepat kabur karena takut digebukin panitia. Selain itu, tangan putro juga retak ringan karena terlalu ugal-ugalan main gitarnya. Kami naik motor pulang sambil panik. Besoknya tangan Putro dipijet di tempat pijat alternatif, hahahaha


Q: Lagu kalian yg paling sering dinyanyiin sama temen2 kalian pas lagi manggung?

Waduh apa ya, kita ga pernah pake songlist, main lagu yang inget aja,hahahaha….


Q: Apa aja yg harus disiapin kalo pengen ngajakin The Frankenstone maen di kota kita? Secara dari denger2 dan baca2, aksi gitarisnya kalo manggung kan chaos gimanaaa gichu…jadi pengen liat…

Ya tinggal undang aja, ga da persaratan khusus, yang penting main, diberi tempat buat tidur, udah cukup! Hahaha… Karena kami masih band amatir maka kami belum punya management dan crew karena kami belum mampu membayar mereka. Dan kami juga nggak akan membohongi kalian dengan susunan management palsu seperti yang sudah banyak dilakukan band-band lain. Sejauh ini kami melakukan semuanya dengan bantuan teman-teman yang menyukai musik kami.


Q: Dapet denger dari si Menus, katanya pada bikin zine juga ya For The Dummies? Apaan aja tuh isinya? Mau baca doongg, belom dapet nih. Trade yuks! Kenapa bikin zine?

Kalo mau tukeran beli dulu CD kami,hehehehe….For the Dummies zine adalah zine bohongan yang kami tulis dengan asal-asalan untuk mempopulerkan musik kami! Hahaha… Jadi di setiap edisi ada berita tentang The Frankenstone, seakan-akan bukan kami yang nulis sendiri. Kami juga nulis tentang band-band temen-temen kami dan juga musik-musik yang kami sukai. Zine ini kami tulis pake Microsoft words, lalu karena gak ada yang bisa desain layout dan pake corel, kita print aja dan tempel-tempel sampe berbentuk majalah. Lalu di fotokopi yang banyak.


Q: Btw, ada kabar-kabar atau gosip baru nggak di Jogja? Lagi musim apa di sana? Ujan terus nggak?

!@@#$%^&&*()??????


Q: Saya selalu tertarik dengan band2 Jogja, mengingat scene musik Jogja yg distingtif karena banyaknya band yg berkarakter unik, berani dan kayaknya sih nggak peduli sama trend. Saahhh, lebay. Ada rekomendasi band Jogja yg layak disimak saat ini, berikut alasannya?

Benarkah? Wah, seumur hidup kami hidup di Jogja jadi ga tau bedanya. Biasa aja sih, kebanyakan orang-orang di sini yang ingin jadi anak band pengennya bisa terkenal dalam waktu 2 tahun. Kalo mereka ga berhasil terkenal, mereka akan memulai band baru lagi. Mereka lebih mementingkan jadi terkenal dan sukses daripada having fun main-main dalam band.

Ada juga band-band yang bagus tapi biasanya personelnya ya itu-itu aja.

Band2 Jogja favorit kami:

Putro : band jogja paling aku sula Fullmoon punx!! (http://www.myspace.com/fullmoonpunk)

Band dengan musik simple, greget, dan lirik yang brilian!! DOM 65 juga keren, musik mereka progresif dan rekaman mereka berkualitas standart tinggi!!!

Gisa : saya suka sekali dengna Djiwalangkadji (http://www.myspace.com/djiwalangkadji), band punkrock yang bermain sebisanya dan original menututku, tapi sayang sekali band ini sekarang nasibnya ga jelas, tapi untung saja menyisakan beberapa lagu yang sering kami kover… saya juga suka Gerap Gurita (http://www.myspace.com/gerapgurita)

, band folk punk, tapi sebelum ditinggal Anom dan Aink pergi kerja pergi kerja ke luar kota, sekarang band ini sucks.

Jeje: Human Chaos buat hardcore punk! Lihat ketika mereka live!!! dan Tante Gapekol (http://www.myspace.com/tantegapekol)

buat band oi! nya. Mereka salah satu dari band-band yang liriknya Bahasa Indonesia tapi jenius.


Q: Menurut pengalaman kalian, apa aja keuntungan dari terlihat bego?

Tidak ada tuntutan untuk berbuat pintar, hahaha… kalau kita lari dari tanggung jawab pasti dimaklumi. Kalo kami berbuat pintar, orang-orang akan terkejut.


Q: Enakan mana: sex, alkohol atau narkoba?

Wah, menurut kami slogan sex, drugs, and rock ‘n roll itu udah basi, karena ini bukan tahun 70an lagi di mana semua musisi harus gondrong, kurus, dan bertampang pemabuk! Hahahaha…

Lagipula kalo kami melakukan seks, minum, ato apapun itu kami melakukannya dengan cinta, untuk kenikmatan itu sendiri dan tanpa tendensi supaya terlihat keren ato rock n roll ato apa…


Q: Tempat ngopi paling manteb di Jogja?

Waduh kita ga suka nongkrong, apalagi cuma buat minum kopi… itu salah satu alasan kenapa gita kita ga punya temen dan dianggap bukan anak-anak “oke”.


Q: Pengennya masuk mana, majalah The Rolling Stones atau Playboy?

Masuk majalah mana aja deh… masuk majalah Misteri di bagian pellet dan susuk juga bakal tetep bikin kami kegirangan.


Q: Kalo ada 3 hal yg mendingan nggak usah dan nggak pernah ada di muka bumi, itu pastilah…

Eeerrr… yang jelas bukan Putro, Gisa, dan Jeje.


Q: Rencana atau proyek ke depan dengan The Frankenstone ato kehidupan kalian sendiri? Ada cita2 yg belom tercapai?

Kalo rencana kehidupan sendiri sih, kalo Putro lagi ngejar target jadi guru bersertifikasi. Kalo Gisa lagi test untuk bisa diterima jadi penerjemah di Gramedia Pustaka Utama. Kalo Jeje, dia lagi sibuk nungguin pendaftaran siswa baru reguler di Sadhar biar bisa pindah jurusan dari Pendidikan Agama Katolik.

Sebagai band, kita lagi menikmati manggung, bikin kaos, dan jualan CD, lalu dapet temen-temen baru. Kita lagi bikin lagu-lagu untuk album berikutnya dan berikutnya lagi walo album yang sekarang juga belum habis terjual, haahha..


Q: Oke, segitu aja ya, udah kehabisan pertanyaan nih. Ada kritik/saran/pertanyaan?

Itu udah banyak banget mbak, mpe bingun jawabnya,hehehehe…

Ada pertanyaan! kenapa namanya Pussy Wagon? yang terlintas langsung cewek2 blonde dengan payudara besar dan lingery megang cambuk dan topi polisi,hahahahaha…..

Kemudian kenapa nama panjangnya ada For Dummies nya? Bisa diilangin gak For Dummiesnya? Hahahhahaa…


Q: Makasih temen2! :D

Makasih juga., Sori kalo cerita kita gak sesuai dengan harapan kalian, tapi paling tidak kami jujur,hehe…